Posted on

A Too Creative Dream

Banyak orang yang gak bisa ingat mimpinya sendiri. Saya juga kadang gak ingat sih, tapi most of the times saya ingat sampai ke bagian detail-detailnya. Sama seperti mimpi tadi malam. Gak semua ‘adegan’-nya, tapi bagian ini yang paling saya ingat:

Saya sedang di kelas, kayaknya sih saya masih SMA bukan kuliah. Pelajarannya Bahasa Indonesia, dan Bu Guru datang memberi tugas.. “Tugas kali ini, membuat puisi dan membacakannya di depan kelas. Dimulai dari siswa bernama huruf A, dan seterusnya.” GLEEKK!! Saya langsung ketar-ketir, karena saya belum bikin puisinya dan huruf depan nama saya itu D. Gak bakal lama giliran menunggunya. Huaahhh.. Kerasa stres banget di kelas, sampai akhirnya saya mengambil solusi instan… KABUUUURRR…!

Adegan langsung berganti saya sudah keluar dari kelas, dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi kelas. Ada yang ngerasa capek gak sih kalau mimpi lari-lari? Hwkwk… Anyway.. I keep running and running.. Pokoknya saya harus kabur dari kelas! Tapi.. di tengah pelarian saya, gak sengaja saya nabrak Bapak-bapak. Saya berhenti lari dan menoleh. Ternyata Si Bapak itu salah satu seniman senior Indonesia. Jangan tanya siapa, di detail ini saya gak begitu ingat.

Si Bapak Seniman lalu bertanya “Kamu kenapa lari-lari sambil bawa kertas?”. Saya jawab “Saya kabur dari sekolah Pak, gara-gara belum ngerjain tugas bikin puisi.”. Ditanggapi lagi, “Oh gitu.. sini kertasnya. Saya bikinin kamu puisi-nya.”. Saya serahin kertasnya ke si Bapak, dan kemudian dia langsung dengan lancar menulis sesuatu di kertas itu. Setelah beberapa saat, kertasnya diserahkan lagi ke saya. Si Bapak bicara lagi, “Kamu pake puisi ini aja, saya yakin nilai kamu nanti bakal bagus.”. Dengan penasaran saya baca puisi yang ada di kertas itu.

Penasaran seperti apa puisinya? Yang pasti waktu saya baca puisi itu dalam mimpi, saya terkagum-kagum sekali dengan mata berbinar-binar. Ini puisinya:

KAMU

Sejak awal, aku selalu mau memenuhi keinginanku..
… keinginanku untuk menjadi kekasihmu.

And that’s it! Puisinya cuma 2 baris gombalan tapi saya kagum gila, dan sangat yakin itu puisi terindah yang pernah ada. Saya lalu berterima kasih pada Si Bapak Seniman, dan kembali berlari. Kali ini berlari ke arah awal, kembali ke kelas. Saya gak sabar untuk membacakan puisi ini di depan seluruh anak-anak. Lari dan lari lagi… Tapi sayangnya.. waktu saya baru sampai mushola di samping kelas, ada yang bilang kalau kelas Bahasa Indonesia-nya sudah mau selesai. Giliran anak yang ke depan sudah sampai huruf W. Hiks!

Dan begitulah mimpi berakhir. Saya termenung duduk di mushola sebelah kelas. Menyesal karena telat sampai, sambil menggenggam kertas di tangan kiri saya, dengan puisi 2 baris terindah saya pernah saya baca.

THE END.

Hwkwkwk! Waktu bangun, saya mesem-mesem sendiri. Saya baru tau kalau alam bawah sadar memungkinkan manusia menjadi kreatif sampai bisa membuat puisi. Mana puisinya gombal gelaaaa… Kayaknya saya kebanyakan nonton OVJ deh. Bisa dijadiin gombalan ala Andre. Huahahaha…! Mimpi memang hanya bunga tidur…, tapi bunga itu yang mampu membuat hidupku lebih berwarna. Mulaaai gombal lageeee… tarik maannggg…!! Hwkwkwk!

Advertisement

About diBond

as sweet as honey, as sour as acid, as bitter as pills

2 Responses to A Too Creative Dream

  1. hahahaha…
    so sweat kata2nya…

    salam kenal

  2. so sweat din.. >> ente keringetan? :p
    saya deja-vu baca ini din. wkwkwk
    *btw, tadi malem saya benjret2 din.. T-T*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s