Home > Phenomenon > Kisah selembar KTP

Kisah selembar KTP

Alkisah beberapa bulan yg lalu, sy berniat membuat paspor. Setelah melalui berangkai-rangkai prosedur akhirnya sebuah paspor dengan foto sy di dalamnya tercipta sudah. Namun kesemua prosedur rumit dan uang yg telah sy keluarkan ternyata tidak cukup untuk membayar keberadaan paspor itu. Niscaya (apa sih?), tak dinyana KTP sy tercecer di dalam map registrasi paspor dan hilanglah sudah. Hiks…

Karena dirundung rasa males yg teramat sangat untuk mencari rumah pak RT dan membuat KTP yg baru, akhirnya hanya dengan berpegang pada surat kehilangan KTP dari Satpam ITB, saya: Dini Armyta menjalani hidup beberapa bulan berikutnya tanpa selembar KTP, tanpa identitas. Kalo tiba-tiba ada razia, bisa2 sy dipenjara di Nusa Kambangan. Dan karena ketakutan merasakan dinginnya sel jeruji tersebut pulalah akhirnya sy bertekad untuk membuat KTP.

Untungnya suatu hari, pada hari Jum’at sebelum sy berangkat KP ke Jakarta, seorang ibu datang berkunjung menagih iuran bulanan RW. Hal itulah yg membuat sy mencap beliau sebagai si ibu RW. Otakku lalu bekerja dan timbul inisiatif untuk meminta tolong ibu RW untuk membuatkan sy KTP baru. Gayung bersambut, si ibu ternyata bersedia dan meminta fotokopi kartu keluarga. Dengan riang gembira sy menyerahkannya bersama foto hitam-putih 2×3, dan tak lupa biaya pembuatan KTP (yang btw, agak mahal) ke tangan beliau. Cihuy… KTP-ku segera kembali.

Sayangnya…, KTP itu belum jadi sampai pd hari sy KP ke Jakarta. Alhasil, sebulan kemudian sy masih tak beridentitas. Ketika bayangan akan muka2 sipir penjara kembali mengganggu hariku, kuputuskan untuk kembali ke Bandung saat akhir minggu dan mencari rumah bu RW ku tadi. Kenapa mencari rumah? Karena sy dengan bodohnya tidak tahu nama ibu itu, tidak tahu  alamat rumahnya, dan tidak tahu nomer telponnya.

Berbekal dengan istilah “ibu RW”, mulailah pencarian dilakukan. Dari seorang bapak warung di dekat rumah, sy mendapatkan alamat ibu RW yang ternyata hanya berjarak sekitar 5 rumah dari warung tsb. Pagi harinya, dengan kepercayaan diri yg tinggi sy berkunjung ke rumah pak/bu RW tsb dan meminta untuk bertemu dengan si ibu. Nasib baik belum berpihak padaku, si ibu ternyata baru saja pergi. Kemudian sy disambut oleh seorang bapak (sy cap sebagai pak RW) yg mempersilahkan sy duduk. Lalu sy utarakan niat sy untuk mengambil KTP yg telah dititipkan kepada ibu RW. Bapak RW kebingungan… Dia berkata bahwa tidak ada yg menitipkan KTP ke si ibu. Sy mulai curiga… Apa sy ditipu si ibu???

Ternyata tidak! Pak RW lalu menanyakan ciri2 ibu yg sy maksud tersebut. Dan memberikan hasil, bahwa dia yang dititipkan KTP, a.k.a. Bu Nunung bukanlah bu RW tapi bu RT! Hiaaaa…. malu… Padahal uda aga ngotot2 gitu. Untungnya si ibu RW lagi pergi, jadi cuma ketemu sama bapaknya. Dasar ceroboh!

Yah, akhirnya dengan berbekal alamat pak/bu RT dari pak RW dan warga2 sekitar yg baik hati, sy berhasil menemukan rumah bu Nunung. Kuketuk pintu rumahnya dengan kekhawatiran yg sedikit terbersit di benak, apakah dia bu Nunung yg selama sebulan ini kuimpi-impikan… Pintu dibuka. Dan kulihat sosok itu. Sosok bu Nunung yg sedang membawa kain untuk dijahit. Ooooh…, betapa riang  hatiku. Si ibu dengan sigap membawakan KTP dan menyerahkannya padaku. Terima kasih bu. Berkatmu sy bisa tidur dengan tenang malam ini.

emoticon

Categories: Phenomenon
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.